Selamat Datang Kawan dan Terima Kasih atas Kunjungannya

Selasa, 05 November 2024

Opini tulisan Karya Denny JA :

 

NASIONALISME DI ERA ALGORITMA

Oleh : Abd Karim Ismail

3D. JPEG

Tulisan ini merupakan refleksi seorang anak muda bernama Darta, yang merenungkan arti nasionalisme dalam dunia yang semakin terhubung dengan tanpa batas fisik. Di tahun 2024, ketika kecerdasan buatan dan algoritma mempengaruhi banyak aspek kehidupan manusia, pertanyaan tentang cinta pada tanah air dan identitas kebangsaan menjadi semakin relevan. Darta menyaksikan bagaimana dunia semakin kabur; batas-batas negara seakan lenyap di antara sinyal digital dan kode, sementara budaya dan nilai global terus menyusup ke dalam kehidupan sehari-hari. Namun,beliau juga merasakan bahwa meski hidup dalam era yang tanpa batas, ada ikatan tak kasat mata yang tetap menghubungkannya dengan Indonesia.

Di era globalisasi ini, teknologi informasi membuat dunia seakan menjadi satu, di mana jarak dan batas negara seolah tidak lagi relevan. Melalui internet dan media sosial, anak muda dapat terhubung dengan teman-teman dari berbagai belahan dunia, belajar bahasa asing, mengadopsi gaya hidup, dan mengakses informasi tanpa batas. Dunia digital melunturkan perbedaan antarnegara dan menjadikan identitas nasional tampak lebih abstrak. Peta negara yang dulunya memiliki batas tegas kini larut dalam piksel, seperti yang digambarkan dalam tulisan ini. Namun, ketika batas fisik mulai pudar, apakah identitas kebangsaan juga ikut terkikis?

Darta, tokoh dalam tulisan ini, mempertanyakan arti tanah air dalam dunia digital yang tanpa batas ini. Ia merasa bahwa meskipun dunia globalisasi telah membuat batas antarbangsa semakin samar, ada sesuatu hal dalam dirinya yang terus bergema yakni sebuah cinta tanah air yang tidak mudah lenyap begitu saja. Pengalaman Darta menggambarkan bahwa meskipun era digital dapat mengaburkan batas fisik antarnegara, namun tidak serta merta mampu menghapus rasa memiliki terhadap tanah air. Cinta pada tanah air bukan hanya soal garis geografis, tetapi soal ikatan emosional.

Tulisan ini juga mengingatkan kita pada pentingnya sejarah perjuangan para pahlawan terdahulu dalam menanamkan rasa cinta tanah air. Dalam salah satu bagian, ada gambaran tentang suara dari masa lalu, khususnya tepatnya tahun 1928, ketika para pemuda Indonesia bersumpah setia pada satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air. Sumpah Pemuda bukan hanya deklarasi formal, melainkan juga cermin dari komitmen untuk menyatukan berbagai suku, bahasa, dan agama dalam sebuah simpul yang kuat. Cinta tanah air bukan hanya sekadar simbol atau slogan, tetapi hasil dari ikatan yang telah dibangun dengan darah dan air mata oleh generasi terdahulu.

Bagi generasi muda saat ini, seperti Darta, suara-suara masa lalu itu seakan berbisik, mengingatkan mereka pada perjuangan para pendahulu yang berusaha keras menyatukan bangsa ini. Ketika Darta merenungkan sejarah ini, ia merasakan akar yang kuat menembus dirinya, mengingatkan bahwa kebersamaan dan identitas sebagai bangsa Indonesia tidak mudah hilang hanya karena perubahan teknologi.

Kenangan akan perjuangan masa lalu itulah yang menjadi pengingat penting bagi generasi muda untuk menjadi sangat kuat, meneguhkan cinta pada tanah air. Di saat dunia menawarkan segala macam identitas dan pilihan gaya hidup, sejarah membantu kita menemukan arah dan memperkuat identitas sebagai bangsa. Inilah yang membuat nasionalisme tetap hidup di tengah era modern, karena ia bukan sekadar aturan yang tertulis dalam undang-undang, melainkan ikatan emosional yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tulisan ini juga mengilustrasikan bahwa meskipun bahasa digital dan algoritma mengalirkan beragam suara dari seluruh dunia, bahasa nasional tetap berperan sebagai pemersatu. Bagi Darta, yang tumbuh di era globalisasi, bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi; ia adalah jejak identitas yang mendalam, pengingat akan akar kebangsaan yang diwariskan. Di tengah gempuran bahasa asing yang ada di media sosial, aplikasi, dan konten digital lainnya, bahasa Indonesia tetap menyisakan ruang khusus dalam hatinya sebagai bagian dari hakikat dirinya.

Bahasa tidak hanya menjadi alat untuk berbicara, tetapi juga sarana untuk mengidentifikasi diri di tengah keberagaman. Bahasa Indonesia menjadi salah satu identitas yang menghubungkan Darta dengan sejarah dan kebudayaan leluhur, mengingatkan dirinya bahwa ia adalah bagian dari komunitas besar yang memiliki nilai, norma, dan sejarah bersama. Bahasa nasional berfungsi sebagai simbol kebersamaan yang tak lekang oleh waktu, dan dalam konteks era digital, ini menjadi semakin relevan. Teknologi dapat menghubungkan kita dengan seluruh dunia, tetapi bahasa kita tetap menjadi jangkar yang mempertahankan identitas kita sebagai bangsa.

Di satu sisi, era digital membawa tantangan tersendiri dalam mempertahankan nasionalisme, terutama bagi generasi muda yang sering terpapar oleh berbagai pengaruh budaya global. Namun, di sisi lain, era ini juga memberikan peluang untuk memperkuat rasa kebangsaan. Teknologi dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengeksplorasi kembali sejarah bangsa, mempelajari budaya lokal, dan memperkuat identitas nasional melalui konten-konten positif yang mengangkat nilai-nilai kebangsaan. Dengan dukungan teknologi, kita dapat mempromosikan kekayaan budaya Indonesia di kancah internasional, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki identitas yang unik di tengah dunia yang semakin homogen.

Bagi Darta, algoritma bukan hanya sekadar kode-kode yang tanpa jiwa. Di balik hiruk-pikuk suara digital, ada nada yang tak terhapus, sebuah nada dasar yang bergema sebagai rasa cinta tanah air. Sejarah, budaya, dan bahasa Indonesia dapat disebarluaskan dan terhubung dengan dunia global.Tapi, kita harus tetap memiliki identitas lokal yang kuat.

Pada akhirnya, tulisan ini menunjukkan bahwa nasionalisme bukan sesuatu yang mudah hilang hanya karena perubahan zaman. Di tengah dunia tanpa batas dan derasnya arus globalisasi, cinta tanah air tetap tumbuh dalam senyap, sebagai jejak identitas yang kuat dalam diri kita. Darta adalah simbol generasi muda yang hidup di era algoritma, namun tetap merasakan keterikatan yang mendalam pada tanah airnya. Pengalaman Darta mengingatkan kita bahwa nasionalisme bukan soal batas fisik, melainkan rasa memiliki yang merasuk dalam jiwa, sebuah identitas yang melekat erat dan tak tergantikan oleh apa pun.

Era digital membuka jalan baru dalam merayakan dan mempertahankan identitas nasional. Dengan memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk menyebarkan kebudayaan dan nilai kebangsaan, generasi muda dapat membangun nasionalisme yang relevan di zaman modern. Nilai cinta tanah air tetap menjadi wadah pemersatu jiwa, tempat di mana sejarah, bahasa, dan budaya Indonesia berpadu menjadi satu, menciptakan jejak identitas yang akan terus bergema di tengah dunia yang terus berubah. Meskipun dunia semakin terhubung dan batas-batas fisik menjadi pudar, namun cinta pada tanah air adalah rumah yang selalu ada dalam diri kita,rumah yang selalu di rindukan untuk pulang, hingga menjadi identitas yang abadi dan tak tergantikan di setiap zaman. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar