Opini tulisan Karya Denny JA :
NASIONALISME
DI ERA ALGORITMA
Oleh : Abd Karim
Ismail
Tulisan ini merupakan refleksi seorang anak
muda bernama Darta, yang merenungkan arti nasionalisme dalam dunia yang semakin
terhubung dengan tanpa batas fisik. Di tahun 2024, ketika kecerdasan buatan dan
algoritma mempengaruhi banyak aspek kehidupan manusia, pertanyaan tentang cinta
pada tanah air dan identitas kebangsaan menjadi semakin relevan. Darta
menyaksikan bagaimana dunia semakin kabur; batas-batas negara seakan lenyap di
antara sinyal digital dan kode, sementara budaya dan nilai global terus
menyusup ke dalam kehidupan sehari-hari. Namun,beliau juga merasakan bahwa
meski hidup dalam era yang tanpa batas, ada ikatan tak kasat mata yang tetap
menghubungkannya dengan Indonesia.
Di
era globalisasi ini, teknologi informasi membuat dunia seakan menjadi satu, di
mana jarak dan batas negara seolah tidak lagi relevan. Melalui internet dan
media sosial, anak muda dapat terhubung dengan teman-teman dari berbagai
belahan dunia, belajar bahasa asing, mengadopsi gaya hidup, dan mengakses
informasi tanpa batas. Dunia digital melunturkan perbedaan antarnegara dan
menjadikan identitas nasional tampak lebih abstrak. Peta negara yang dulunya
memiliki batas tegas kini larut dalam piksel, seperti yang digambarkan dalam
tulisan ini. Namun, ketika batas fisik mulai pudar, apakah identitas kebangsaan
juga ikut terkikis?
Darta,
tokoh dalam tulisan ini, mempertanyakan arti tanah air dalam dunia digital yang
tanpa batas ini. Ia merasa bahwa meskipun dunia globalisasi telah membuat batas
antarbangsa semakin samar, ada sesuatu hal dalam dirinya yang terus bergema
yakni sebuah cinta tanah air yang tidak mudah lenyap begitu saja. Pengalaman
Darta menggambarkan bahwa meskipun era digital dapat mengaburkan batas fisik
antarnegara, namun tidak serta merta mampu menghapus rasa memiliki terhadap
tanah air. Cinta pada tanah air bukan hanya soal garis geografis, tetapi soal
ikatan emosional.
Tulisan
ini juga mengingatkan kita pada pentingnya sejarah perjuangan para pahlawan
terdahulu dalam menanamkan rasa cinta tanah air. Dalam salah satu bagian, ada
gambaran tentang suara dari masa lalu, khususnya tepatnya tahun 1928, ketika
para pemuda Indonesia bersumpah setia pada satu bangsa, satu bahasa, dan satu
tanah air. Sumpah Pemuda bukan hanya deklarasi formal, melainkan juga cermin
dari komitmen untuk menyatukan berbagai suku, bahasa, dan agama dalam sebuah
simpul yang kuat. Cinta tanah air bukan hanya sekadar simbol atau slogan,
tetapi hasil dari ikatan yang telah dibangun dengan darah dan air mata oleh
generasi terdahulu.
Bagi
generasi muda saat ini, seperti Darta, suara-suara masa lalu itu seakan
berbisik, mengingatkan mereka pada perjuangan para pendahulu yang berusaha
keras menyatukan bangsa ini. Ketika Darta merenungkan sejarah ini, ia merasakan
akar yang kuat menembus dirinya, mengingatkan bahwa kebersamaan dan identitas
sebagai bangsa Indonesia tidak mudah hilang hanya karena perubahan teknologi.
Kenangan
akan perjuangan masa lalu itulah yang menjadi pengingat penting bagi generasi
muda untuk menjadi sangat kuat, meneguhkan cinta pada tanah air. Di saat dunia
menawarkan segala macam identitas dan pilihan gaya hidup, sejarah membantu kita
menemukan arah dan memperkuat identitas sebagai bangsa. Inilah yang membuat
nasionalisme tetap hidup di tengah era modern, karena ia bukan sekadar aturan
yang tertulis dalam undang-undang, melainkan ikatan emosional yang diwariskan
dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tulisan
ini juga mengilustrasikan bahwa meskipun bahasa digital dan algoritma
mengalirkan beragam suara dari seluruh dunia, bahasa nasional tetap berperan
sebagai pemersatu. Bagi Darta, yang tumbuh di era globalisasi, bahasa Indonesia
bukan sekadar alat komunikasi; ia adalah jejak identitas yang mendalam,
pengingat akan akar kebangsaan yang diwariskan. Di tengah gempuran bahasa asing
yang ada di media sosial, aplikasi, dan konten digital lainnya, bahasa Indonesia
tetap menyisakan ruang khusus dalam hatinya sebagai bagian dari hakikat
dirinya.
Bahasa
tidak hanya menjadi alat untuk berbicara, tetapi juga sarana untuk
mengidentifikasi diri di tengah keberagaman. Bahasa Indonesia menjadi salah
satu identitas yang menghubungkan Darta dengan sejarah dan kebudayaan leluhur,
mengingatkan dirinya bahwa ia adalah bagian dari komunitas besar yang memiliki
nilai, norma, dan sejarah bersama. Bahasa nasional berfungsi sebagai simbol
kebersamaan yang tak lekang oleh waktu, dan dalam konteks era digital, ini
menjadi semakin relevan. Teknologi dapat menghubungkan kita dengan seluruh
dunia, tetapi bahasa kita tetap menjadi jangkar yang mempertahankan identitas
kita sebagai bangsa.
Di
satu sisi, era digital membawa tantangan tersendiri dalam mempertahankan
nasionalisme, terutama bagi generasi muda yang sering terpapar oleh berbagai
pengaruh budaya global. Namun, di sisi lain, era ini juga memberikan peluang
untuk memperkuat rasa kebangsaan. Teknologi dapat menjadi sarana bagi generasi
muda untuk mengeksplorasi kembali sejarah bangsa, mempelajari budaya lokal, dan
memperkuat identitas nasional melalui konten-konten positif yang mengangkat
nilai-nilai kebangsaan. Dengan dukungan teknologi, kita dapat mempromosikan
kekayaan budaya Indonesia di kancah internasional, menunjukkan bahwa Indonesia
memiliki identitas yang unik di tengah dunia yang semakin homogen.
Bagi
Darta, algoritma bukan hanya sekadar kode-kode yang tanpa jiwa. Di balik
hiruk-pikuk suara digital, ada nada yang tak terhapus, sebuah nada dasar yang
bergema sebagai rasa cinta tanah air. Sejarah, budaya, dan bahasa Indonesia
dapat disebarluaskan dan terhubung dengan dunia global.Tapi, kita harus tetap
memiliki identitas lokal yang kuat.
Pada akhirnya, tulisan
ini menunjukkan bahwa nasionalisme bukan sesuatu yang mudah hilang hanya karena
perubahan zaman. Di tengah dunia tanpa batas dan derasnya arus globalisasi,
cinta tanah air tetap tumbuh dalam senyap, sebagai jejak identitas yang kuat
dalam diri kita. Darta adalah simbol generasi muda yang hidup di era algoritma,
namun tetap merasakan keterikatan yang mendalam pada tanah airnya. Pengalaman
Darta mengingatkan kita bahwa nasionalisme bukan soal batas fisik, melainkan
rasa memiliki yang merasuk dalam jiwa, sebuah identitas yang melekat erat dan
tak tergantikan oleh apa pun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar